Kajian Isu #4 Israel-Palestine Conflict: An Actual Never Ending Story

WhatsApp Image 2021 06 03 at 08.06.11

Oleh :

Friska Anatasya 1902046034

Muhammad Akbar 2002046019

 

Pendahuluan

Konflik antara israel dan palestina telah menjadi isu perbincangan oleh masyarakat internasional dewasa ini. Konflik ini seakan tak pernah berujung sejak dimulainya pada tahun 1948. Pertikaian yang terjadi antar kedua negara diiringi dengan berbagai macam spekulasi. Kebanyakan dari masyarakat internasional menganggap bahwa isu ini sangat berkaitan erat dengan isu agama. Namun, ada juga yang mengaitkannya dengan isu politik, ekonomi, dan ideologi. Keseluruhan asumsi tersebut tidak lepas dari keinginan Israel untuk melakukan ekspansi wilayah terhadap wilayah Palestina dengan menghalalkan segala cara sampai berujung pada tindak kekerasan yang terutama dirasakan oleh masyarakat sipil Palestina. Terhitung konflik ini sudah memakan waktu sekitar 71 tahun sejak permulaan, dan kini sedang menghadapi tantangan dan kenyataan bahwa usaha untuk mencapai perdamaian di antara keduanya mengalami perkembangan yang stagnan. Sebagai salah satu konflik yang cukup banyak menarik perhatian dari dunia internasional, konflik antara Israel dan Palestina sudah banyak melewati proses diplomasi untuk diperolehnya perdamaian diantara keduanya. Usaha untuk mencapai resolusi konflik dalam peace talk yang dilakukan pada rentang tahun 2013-2014 mengalami penangguhan. Lalu, apakah konflik antara Israel-Palestina ini akan menjadi konflik ber-ketidaksudahan? Hal ini menimbulkan beberapa pandangan terhadap keefektifan resolusi konflik yang ada saat ini, bagi kedua negara yang bertikai, yaitu resolusi satu negara dan dua negara. Dalam tulisan ini, kami akan mengkaji lewat perspektif liberalisme ideasional yang menempatkan solusi dua negara sebagai solusi terlayak dengan mengesampingkan solusi satu negara untuk mengurangi tendensi konflik yang berkepanjangan antara Israel dengan Palestina.

Sejarah & Eskalasi Konflik Israel-Palestina

 

Kelahiran nasionalisme bagi kedua belah pihak, baik bangsa Yahudi dengan zionismenya serta Palestina dengan gagasan nasionalisme Arab menginisiasi konflik yang menurut beberapa pengamat sebagai konflik yang sangat sulit untuk dipecahkan. Konflik Israel-Palestina ini memuncak pada tahun 1948 dengan penciptaan negara Israel. Meskipun demikian, konflik tersebut secara ‘informal’ digaungkan pada akhir abad ke-19 dengan gagasan yang dibawa oleh Theodor Herzl, seorang jurnalis Austro-Hungaria keturunan bangsa Yahudi, yaitu zionisme, dengan bertumpu pada konsep Aliyah atau migrasi bangsa Yahudi ke tanah kelahiran bangsa mereka di tanah Mandat Inggris atas Palestina (Mandatory Palestine) atau yang dikenal dengan Israel.

Zionisme merupakan ideologi yang sangat fundamental bagi bangsa Yahudi.  Pada awal dideklarasikannya Zionisme, Ideologi ini merupakan keyakinan bagi orang-orang Yahudi bahwa mereka akan memiliki negara-bangsa sendiri secara independen. Akar sejarah zionisme semuanya merujuk pada kota Yerusalem (ibukota palestina)  yang di kemudian hari diidentikkan dengan kota suci Yerusalem itu sendiri. Pada masa lampau, istilah Zionisme pernah digunakan untuk menyebut komunitas komunitas Yahudi penganut Yudaisme yang berharap akan datangnya seorang Mesias (juru selamat), yang nantinya akan membawa mereka pada kerajaan Tuhan yang  dipusatkan di tempat terjadinya kisah-kisah yang dialami oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Musa. Cerita Sejarah ini dijadikan landasan sejarah bagi gerakan zionisme yang berkembang menjadi sebuah gerakan politik bangsa Yahudi untuk kembali ke tanah yang mereka yakini sebagai asal muasal tempat tinggal mereka atau yang dikenal dengan gerakan restorasi. Gerakan restorasi juga disebabkan hak sosial, ekonomi, politik, budaya, dan agama mereka ditindas ketika mereka terpaksa hidup diaspora dalam beberapa negara terutama di negara jerman. Dari sini kemudian muncul kesadaran orang-orang Yahudi yang hidup di berbagai negara untuk mengakhiri penderitaan yang mereka alami dengan kembali ke negeri leluhur mereka. Berdirinya negara Israel berawal dari gerakan Zionisme politik yang pada awalnya hanya merupakan keyakinan bangsa Yahudi akan memiliki negara independen. Yahudi dengan keyakinan Zionisme menempuh berbagai cara termasuk yang menjanjikan adalah melalui lobi internasional dengan menguasai media. Pada tahun 1917 Inggris mengeluarkan Deklarasi Balfour dan menjanjikan akan menghadiahkan sebuah tanah air kepada Yahudi di Palestina. Tahun 1918, Palestina jatuh. Jenderal Allenby merebut Palestina dari Khilafah Turki Utsmani. Setahun kemudian, secara resmi mandat atas Palestina diberikan kepada Inggris oleh PBB. Kemudian Pada tahun 1947, PBB dengan sewenang-wenang membagi dua wilayah Palestina. Akhirnya pada tahun 1948, negara yang mereka dambakan dideklarasikan dengan nama Israel di bagian negara Palestina.

Namun faktanya, populasi orang Israel hanya sekitar 31,5% dari total populasi di Palestina. Hal ini menyebabkan pihak Palestina melakukan perlawanan untuk memperjuangkan kebebasan mereka di tanah mereka sendiri. Di sisi lain, Israel menganggap bahwa pembagian itu masih belum representatif dan masing-masing pihak menginginkan wilayah yang lebih besar. Sikap tersebut menimbulkan teror yang menyebar luas ke Palestina, sehingga bereskalasi pada konflik Liga Arab atas nama Arab Palestina dengan Israel terkait deklarasi kenegaraan Israel pada tahun 1948, dengan Israel sebagai pihak yang diuntungkan dari konflik tersebut.

Resolusi Konflik dan Kegagalan Peace Talk

Perbincangan perdamaian antara Israel dan Palestina pada tahun 2013-2014 merupakan perbincangan negosiasi yang berada dalam kerangka solusi dua negara serta diinisiasi oleh Mantan Sekretaris Negara AS, John Kerry. Perbincangan tersebut merupakan perbincangan negosiasi yang cukup vital untuk mewujudkan solusi yang nyata, solusi dua negara. Namun perbincangan tersebut gagal dikarenakan kedua belah pihak saling tidak menghormati good will masing-masing. Beberapa penyebabnya adalah pihak Israel yang terus menerus melakukan ekspansi pemukiman di Tepi Barat serta joint-cooperation antara Hamas-Fatah. Dengan terjadinya kegagalan peace talk pada tahun 2013-2014, berbagai penulis beranggapan bahwa kegagalan tersebut berimplikasi pada konfrontasi Israel-Palestina yang semakin memburuk serta implementasi solusi dua negara yang semakin tidak memungkinkan. Sikap Israel yang mendasari kegagalan peace talk 2013-2014, berimplikasi pada kepemilikan dan pengaturan wilayah di seluruh Palestina atas Israel yang semakin terlihat jelas, sehingga untuk tercipta solusi dua negara yang diinginkan seperti pada tahun-tahun sebelumnya, tidak dapat dimungkinkan. Mengakibatkan tersisa opsi solusi satu negara, yang dalam konteks ini kedua belah pihak belum tentu diuntungkan, baik dalam rencana Elon Peace (pengembalian rakyat Palestina ke Yordania) maupun Isratin (bi-national state).

Liberalisme dalam Resolusi Konflik, Peace Talk

 

Liberalisme adalah salah satu teori dalam Hubungan Internasional, yang berpandangan bahwa tindakan suatu negara didasari oleh tujuan atau state preferences-nya, baik dalam konteks konflik, kooperasi, atau dalam bentuk kebijakan luar negeri (Moravcsik 2010). Secara garis besar, Liberalisme memiliki tiga asumsi dasar, yaitu: (1) bahwa sifat dasar manusia tidak negatif, melainkan positif; (2) bahwa hubungan internasional tidak selalu berakhir pada peperangan, melainkan kerja sama; (3) bersifat progresif (Jackson dan Sørensen 2013). Tidak hanya itu, dalam gagasan yang dibawa oleh Moravcsik (2010) menurutnya, dua asumsi dasar yang membedakan teori liberal dengan teori lainnya dalam memandang dunia internasional, yakni: (1) negara mewakili kelompok sosial, yang pandangannya merupakan preferensi negara; dan (2) saling bergantung terhadap preferensi negara lainnya yang dapat mempengaruhi kebijakan luar negeri suatu negara. Dua asumsi ini membentuk tiga variasi utama dalam teori liberal, yang menurut Moravcsik (2010) terbagi dalam 3 teori, yaitu: (1) Ideational Liberalism: yang dibentuk melalui preferensi negara yang didasari oleh identitas serta nilai-nilai sosial; (2) Commercial Liberalism: yang dibentuk melalui preferensi negara didasari oleh kepentingan ekonomi; (3) Republican Liberalism: yang dibentuk melalui preferensi negara didasari oleh sistem politik domestik. Dalam tulisan kali ini, kami menggunakan landasan teori Liberalisme Ideasional karena sesuai dengan gaya politik, kebijakan luar negeri, maupun secara keseluruhan perilaku negara Israel dan Otoritas Palestina (PA) yang didasari oleh nilai-nilai sosial, identitas dan ideologi yang terdapat pada Zionisme dan Nasionalisme Arab. Liberalisme Ideasional memandang identitas dan nilai-nilai sosial domestik sebagai penentu dasar preferensi negara yang dapat mempengaruhi kebijakan luar negeri (Moravcsik 2010).

Sedangkan dampak dari kegagalan peace talk antara Israel dan Palestina pada tahun 2013-2014 menurut analisis kami merupakan gerbang penutup bagi implementasi resolusi-resolusi yang ada saat ini dalam proses negosiasi konflik Israel-Palestina. Hal ini kemudian akan berimplikasi bahwa Israel seakan memiliki pengaturan penuh atas tanah Palestina, dengan kebijakan pemukiman yang diterapkannya. Tidak hanya itu, dengan adanya kegagalan proses perdamaian selama lebih dua dekade, opsi solusi dua negara dianggap tidak memungkinkan lagi, sehingga menyisakan solusi satu negara, atau tidak sama sekali. Peace Talk 2013-2014 merupakan proses perdamaian yang masih tetap berada dalam kerangka perdamaian solusi dua negara, dengan tujuan untuk menghasilkan solusi dua negara serta penukaran tawanan perang, pembatasan jelas bagi kedua negara serta pembahasan.

Namun, diplomasi tersebut berujung dengan kegagalan seperti yang telah disinggung. Dimana ada beberapa penyebab yang melatarbelakangi kegagalan tersebut salah satunya penolakan Israel terhadap Palestinian right of return, konsep perbatasan negara yang terdapat dalam keputusan Green Line pada tahun 1967, serta operasi penyediaan pemukiman oleh Israel yang melanggar beberapa perjanjian sebelumnya. Hal tersebut membuat pihak Palestina melihat perbincangan perdamaian tersebut tidak menguntungkan sehingga memutuskan untuk keluar dari proses negosiasi melihat adanya eskalasi pemukiman yang dilakukan oleh Israel. Namun, Palestina juga memainkan peran dalam penundaan atau pemberhentian proses damai tersebut dengan melakukan rekonsiliasi antara Hamas dan fatah yang selama ini berkonflik secara internal.

Rekonsiliasi tersebut akhirnya memberikan efek negatif pada peace talk, yang menimbulkan penolakan oleh Israel untuk melakukan perbincangan dengan pemerintah Otoritas Palestina yang dibantu oleh Hamas, dengan alasan bahwa Hamas merupakan terorisme dan dalang kehancuran bagi Israel. Peristiwa tersebut merefleksikan bahwa masing-masing pihak pada dasarnya tidak menghormati komitmen good will dengan melakukan kebijakan yang cenderung pada pembalasan satu sama lain . Sehingga perbincangan tersebut berujung pada kegagalan yang merugikan. Jika ditelaah lebih lanjut, kegagalan tersebut didasari oleh ketidaksepahaman dalam beberapa aspek perjanjian, dalam hal ini yang paling krusial adalah mengenai batas negara. Perbedaan pandangan antar kedua negara dalam konteks teritorial, mendasari berbagai bentuk kegagalan yang terjadi pada berbagai proses perdamaian pada konflik ini. Kegagalan-kegagalan ini berujung pada kondisi hubungan kedua pihak tersebut semakin memburuk, sehingga menimbulkan anggapan bahwa solusi dua negara tidak dapat diimplementasikan. Liberalisme Ideasional, dalam tulisan Moravcsik (2010), telah memprediksikan bahwa situasi konflik akan sangat mungkin terjadi apabila hubungan eksternalitas antara Palestina-Israel bersifat negatif. Dalam hal ini, eksternalitas negatif timbul dalam ketidaksepahaman terkait batas wilayah yang tepat, menurut Palestina batasan yang tepat sesuai dengan Green Line 1967, sedangkan bagi Israel, perbatasan yang sesuai merupakan persebaran permukiman yang ada pada saat ini.  Meskipun demikian, jika dilihat dari state preferences kedua pihak tersebut, solusi perdamaian mungkin dapat dicipta, tergantung pada kesepakatan antara kedua negara mengenai batas batas wilayah kedaulatan masing masing.

Kesimpulan

Pertikaian yang terjadi antara  Israel-Palestina diiringi dengan berbagai macam spekulasi terutama terhadap pandangan agama. Konflik ini sudah memakan waktu sekitar 71 tahun sejak permulaan, dan kini sedang menghadapi tantangan dan kenyataan bahwa usaha untuk mencapai perdamaian di antara keduanya mengalami perkembangan yang stagnan. Berawal dari Deklarasi Balfour Inggris, Konflik ini telah menjadi isu perebutan wilayah yang sangat rumit dan tidak pernah selesai sampai sekarang. Bahkan peace talk antara Israel dan Palestina pada tahun 2013-2014 juga tidak kunjung memberikan kabar baik. Di satu sisi Israel tetap bertahan dengan egoisme kepentingan wilayah kedaulatannya dan di sisi lain Palestina merasa tidak mendapatkan perubahan apa apa akibat peace talk tersebut. Kegagalan-kegagalan ini berujung pada kondisi hubungan kedua pihak tersebut semakin memburuk, sehingga menimbulkan anggapan bahwa solusi dua negara tidak dapat diimplementasikan. Analisis melalui Liberalisme Ideasional telah memprediksikan bahwa situasi konflik akan sangat mungkin terjadi apabila hubungan eksternalitas antara Palestina-Israel bersifat negatif. Dari pemaparan diatas, potensi untuk mengurangi tendensi konflik bahkan kemungkinan berakhirnya konflik akan sangat kecil yang pada akhirnya menjadi konflik abadi (tidak berujung).

Daftar Pustaka

Tifada. Mahabharata. 2021. "Sejarah sengketa tanah israel dan palestina di sheikh jarrah,siapa yang berhak bermukim?," Voice of indonesia. https://voi.id/memori/51057/sejarah-sengketa-tanah-israel-palestina-di-sheikh-jarrah-siapa-yang-berhak-bermukim.

Husna. 2018. " Konflik tak berujung antara palestina dan israel," Secangkirliterasikpi/kelas nalar https://secangkirliterasikpi.wordpress.com/2018/01/08/konflik-tak-berujung-antara-palestina-dan-israel/.

Aljazeera. 2013. “Israel says Separation Wall will be border.” News: Middle East, https://www.aljazeera.com/news/middleeast/2013/11/israel-says-separation-wall-will-be-border-201311514132609960.html.

BBC. 2014. “Hamas and Fatah unveil Palestinian reconciliation deal.” News: Midle

https://www.bbc.com/news/world-middle-east-27128902.

Black, Ian. 2014. “Israel suspends peace talks with Palestinians after Fatah-Hamas

deal.” The Guardian: Middle East, https://www.theguardian.com/world/2014/apr/24/middle-east-israel-halts-peace-talks-palestinians.

Lang, Johannes. 2019. “No Solution but a Two-State Solution.” Harvard Political, https://harvardpolitics.com/columns-old/two-state-solution/.

Lazaroff, Tovah. 2013. “Netanyahu rejects Palestinian right of return to Israel.” Jerusalem Post, https://www.jpost.com/Diplomacy-and-Politics/Netanyahu-rejects-Palestinian-right-of-return-to-Israel-329895.

Malley, Robbert dan Agha, Huseein. 2009. “How Not to Make Peace in the Middle

East.” The New York Review of Books, https://www.nybooks.com/articles/2009/01/15/how-not-to-make-peace-in-the-middle-east/ 

Najjar, Farah. 2017. “Why there can never be a two-state solution.” News: Israel, https://www.aljazeera.com/news/2017/11/state-solution-171119093352403.html.

Nation Master. 2012. “Human Development Index,”. Economy Stats: compare key data

on Israel & Palestine. https://www.nationmaster.com/country-info/compare/Israel/Palestine/Economy.

Pew Research Center. 2016a. “Israeli Arabs more optimistic about two-state solution

than Arabs living in the Palestinian territories.” Fact Tank. https://www.pewresearch.org/fact-tank/2016/04/27/israeli-arabs-more-optimistic-about-two-state-solution-than-arabs-living-in-the-palestinian-territories/.

Pew Research Center. 2016b. “Among Israeli Arabs and Jews, limited optimism

about a two-state solution.” Fact Tank. https://www.pewresearch.org/fact-tank/2016/03/09/among-israeli-arabs-and-jews-limited-optimism-about-a-two-state-solution/.

Plaut, Steven. 2008. “One State Solution vs Two-State Solution?” Back to Sanity, http://www.israelnationalnews.com/Blogs/Message.aspx/2614#.Ujd8qcaUQUg.

Qaddafi, Muammar. 2009. “The One State Solution” New York Times: Opinion, https://www.nytimes.com/2009/01/22/opinion/22qaddafi.html?ref=opinion.

Ravid, Barak. 2013. “Abbas: Peace Deal Will Mean End of Palestinian Demands of

Israel.” HAARETZ, https://www.haaretz.com/peace-deal-will-end-palestinian-claims-1.5324406.

Shabi, Rachel. 2012. “The death of the Israel-Palestine two-state solution brings

fresh hope.” Middle East, https://www.theguardian.com/commentisfree/2012/oct/23/israel-palestine-two-state-solution.

Shawaf, Rayyan Al. 2014. “Caroline Glick’s one-state solution for Israel-Palestine asks

all the wrong questions.” Arts & Culture, https://www.thenational.ae/arts-culture/books/caroline-glick-s-one-state-solution-for-israel-palestine-asks-all-the-wrong-questions-1.685514.

The Australian. 2017. “Two state policy, settlements on Benjamin Netanyahu’s agenda.” The Australian, https://www.theaustralian.com.au/subscribe/

news/1/?sourceCode=TAWEB_WRE170_a&dest=https%3A%2F%2Fwww.theaustralian

Mitra Kami

logo unmul2 logo ind2q logo venas3 logo aihii3