Kajian Isu #6 : Normalisasi Hubungan Uni Emirat Arab-Israel : The Love Triangle Among United Arab Emirates, Palestine, and Israel

kajian isu rikastra VI

 

Normalisasi Hubungan Uni Emirat Arab-Israel : The Love Triangle Among United Arab Emirates, Palestine, and Israel 

 

Hubungan Uni Emirat Arab-Israel Sebelum Adanya Perjanjian Damai

Apabila ditelusuri ke belakang, hubungan Uni Emirat Arab dan Israel seperti halnya negara-negara Arab lainnya, buruk, tentu saja apabila mengecualikan Mesir dan Yordania yang telah lebih “dulu” berdamai dengan negeri Menorah ini. Konflik keduanya dimulai melalui Presiden pertama Uni Emirat Arab, Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, meskipun ia dikenal sebagai salah satu tokoh Arab yang paling dekat dengan barat (Amerika Serikat), hal ini tidak membuat ia memiliki pandangan yang sama dengan negara barat atas Israel. Menurut Sheikh Zayed, Israel adalah “musuh” bagi negara negara Arab. Sikap anti Israel Sheikh Zayed sering menimbulkan kemarahan Washington, ketika Presiden Richard Nixon mendukung dan mempersenjatai Israel selama perang Yom Kippur pada Oktober 1973, Uni Emirat Arab memberlakukan boikot minyak total di Barat, yang kemudian menyebabkan peristiwa Krisis Minyak pada 1973 dikarenakan naiknya harga minyak pada waktu itu. Bahkan ia terkenal atas kutipan "Minyak Arab tidak lebih mahal dari darah Arab".

Sikap anti Israel Sheikh Zayed tidak berhenti disitu saja, pada 2002 dengan tingginya tensi antara Israel-Palestina, Sheikh Zayed mengatakan bahwa klaim Israel atas pertahanan diri terhadap serangan Palestina dan statement mereka atas perlawanan rakyat Palestina yang tidak bersenjata terhadap pendudukan Israel sebagai terorisme adalah upaya yang sia-sia dan tidak valid.

           Setelah terbunuhnya Mahmoud al-Mabhouh di Dubai pada 19 Januari 2010, hubungan kedua negara bertambah panas, Uni Emirat Arab meminta kepada Interpol, untuk menangkap direktur badan intelijen Israel atau Mossad, yakni Meir Dagan atas dugaan keterlibatan Mossad dalam pembunuhan tersebut, Tel Aviv tidak membantah maupun mengonfirmasi atas tuduhan dan keterlibatan mereka dalam pembunuhan Mahmoud al-Mahbouh, dari insiden ini konflik berlanjut, hingga Kepala Polisi Dubai, Dhani Khalfan Tamim memberlakukan larangan masuk bagi wisatawan dan pemilik paspor Israel untuk masuk ke Uni Emirat Arab, tidak ada penerbangan langsung antara Israel dan UEA, penerbangan harus terlebih dahulu singgah di negara netral seperti Yordania, pesawat Israel pun dilarang memasuki wilayah udara Uni Emirat. Arab Setelah insiden tersebut, UEA setuju untuk memperbaiki hubungan mereka dengan Israel, dan menghapuskan segala pembatasan serta larangan, dengan syarat Israel menyediakan drone bersenjata kepada UEA. Namun, proposal in ditolak oleh Israel dengan alasan khawatir akan mengganggu hubungan mereka dengan Amerika Serikat.

           Bibit normalisasi hubungan kedua negara bisa dikatakan dimulai ketika Barack Obama menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat pada 2009, kedua negara rupanya memiliki musuh yang sama, yakni Iran. Bahkan kedua duta besar negara (Israel dan UEA) untuk Amerika Serikat mendesak penasihat Timur Tengah pemerintah Amerika Serikat untuk mengambil sikap keras terhadap Iran. Hal ini dibuktikan melalui pertemuan rahasia kedua belah pihak yakni Presiden Israel, Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri UEA, Abdullah bin Zayed al-Nahyan di New York, Amerika Serikat pada September 2012, kedua pihak menyetujui adanya ancaman Iran pada keamanan regional di Timur Tengah, namun UEA menolak secara terbuka peningkatan hubungan dengan Israel, selama tidak ada kemajuan pada proses perdamaian di Palestina, setelah pertemuan ini, beberapa pertemuan diadakan termasuk menjelang akhir masa pemerintahan Obama dimana komunikasi telepon kedua negara tercatat oleh badan intelijen Amerika Serikat, serta pertemuan Netanyahu dan pemimpin UEA di Siprus, yang lagi lagi agendanya sama, kerja sama melawan Iran. Bahkan pada Juni 2017, di masa pemerintahan Donald Trump terdapat sebuah e-mail bocor yang mengungkapkan kerjasama Uni Emirat Arab dan Israel yang turut melibatkan Arab Saudi dalam melawan Iran. UEA juga memiliki hubungan dekat dengan organisasi non profit pro-Israel Foundation for Defense of Democracies yang juga berperan dalam pemerintahan Donald Trump, keterlibatan UEA disini diduga dalam rangka menghambat aktivitas bisnis Iran dengan perusahaan besar di seluruh dunia.

            Puncak normalisasi hubungan kedua negara terjadi pada 13 Agustus 2020, Israel dan Uni Emirat Arab menandatangani kesepakatan Abraham Accords yang dimediasi oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Inti dari kesepakatan tersebut adalah, UEA mengakui kedaulatan Israel  dan kedua negara setuju untuk menjalin hubungan diplomatik penuh, sebagai bagian dari kesepakatan, Israel setuju untuk menangguhkan rencana aneksasi Lembah Yordan. Dari berbagai agenda pertemuan kedua negara bisa disimpulkan adanya peran musuh bersama Israel-UEA yakni Iran yang menjadikan terwujudnya berbagai pertemuan antar kedua negara, kemudian keterlibatan Amerika Serikat yang menjadi fasilitator dalam suksesnya normalisasi hubungan kedua negara.

 

Normalisasi Uni Emirat Arab-Israel

            Pada tanggal 13 Agustus 2020 lalu, Uni Emirat Arab akhirnya menandatangani kesepakatan hubungan diplomasi dengan Israel melalui kesepakatan Abraham Accords yang diprakarsai oleh Pemerintahan Amerika Serikat saat itu Donald Trump. Kesepakatan Abraham Accords merupakan kesepakatan untuk menormalisasi hubungan negara-negara Arab dengan Israel sehingga hubungan diplomatik dan ekonomi dapat dibangun di antara mereka. Donald Trump sebagai mediator dalam penandatanganan antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Pimpinan Uni Emirat Arab Sheikh Mohamed bin Zayed Al-Nahyan. Uni Emirat menjadi negara ketiga yang melakukan normalisasi dengan Israel setelah Mesir (1979) dan Kerajaan Yordania (1994). Kedua negara sepakat melakukan kerjasama bilateral di berbagai bidang meliputi pariwisata, investasi, penerbangan langsung, telekomunikasi, keamanan, dan bidang-bidang lainnya. Tidak hanya itu, sebagai simbol dari dibukanya hubungan diplomatik di antara keduanya, akan dibangun kedutaan besar di masing-masing negara. Peristiwa ini menarik perhatian global mengingat negara-negara Arab, salah satunya Uni Emirat Arab sangat vokal mendukung kemerdekaan Palestina. Penandatanganan hubungan diplomatik ini kemudian mendapatkan respon kecaman dan pujian dari berbagai pihak. Negara-negara seperti Bahrain, Yordania, Mesir memberikan dukungan atas tindakan Uni Emirat Arab  yang berpandangan bahwa hal tersebut dapat membuka negosiasi keamanan yang terhenti, diharapkan mampu memberikan stabilitas keamanan dan mewujudkan kemakmuran di kawasan,  serta dapat menghentikan tindakan aneksasi Israel oleh Palestina. Negara lain seperti Inggris maupun Perancis juga memberikan respon dengan menyambut baik perjanjian tersebut. Beberapa negara yang memberikan respon dukungan percaya bahwa adanya perjanjian damai ini akan membuka dialog baru terkait menghentikan tindakan aneksasi Israel oleh Palestina. Palestina sendiri mengecam Uni Emirat Arab atas perjanjian damainya dengan Israel serta menyatakan bahwa Uni Emirat Arab melakukan tindakan pengkhianatan terhadap Jerusalem, Al-Aqsa, dan perjuangan rakyat Palestina. Selain Palestina, Iran pun mengecam perjanjian damai tersebut karena dapat mengganggu stabilitas keamanan dan perdamaian di wilayah Timur Tengah serta menunjukkan bahwa Uni Emirat Arab mendukung kejahatan yang Israel lakukan sebagai zionis. Meski adanya kecaman tidak menyulutkan rencana besar Uni Emirat Arab untuk tetap melanjutkan hubungan damai ini. Terbukti sebagai bentuk simbol terkuat dari dibukanya hubungan dengan Israel, pada 29 Juni 2021 lalu, Israel membuka kantor kedutaan besar nya di Uni Emirat Arab.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa pihak yang paling senang dari penandatanganan ini tidak lain dan tidak bukan adalah Amerika Serikat. Kesepakatan damai ini muncul juga atas inisiasi Amerika Serikat yang menganggap itu akan menjadi momentum kemajuan Timur Tengah. Terdapat kepentingan Donald Trump menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat pada November 2020 lalu sehingga Ia berjuang mendapatkan dukungan dari masyarakat yang mendukung kebijakan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.  Hal ini dilakukan sebab Donald Trump ingin kembali menaikkan pamor nya sebagai Presiden Amerika Serikat yang turun akibat kegagalan dalam penanganan COVID-19 di awal pandemi. Faktor lain mengapa Amerika Serikat begitu mendukung normalisasi hubungan Uni Emirat Arab dan Israel, karena Donald Trump yang sangat memihak Israel dalam kebijakannya di kawasan Timur Tengah. Donald Trump mendukung segala bentuk tindakan Israel termasuk rencana untuk kembali menganeksasi wilayah Palestina. Kepentingan besar yang dimiliki Amerika Serikat di Timur Tengah mengantarkan dukungan pada normalisasi ini agar hubungan baik dengan para komunitas Yahudi yang pro-zionis di Amerika Serikat tetap terjaga.

 

Normalisasi Hubungan Uni Emirat Arab-Israel dalam Pandangan Rational Choice

Dalam rational choice, aktor menentukan kebijakan atau tindakan yang diambil dengan memaksimalkan power yang dimiliki dengan melihat kalkulasi keuntungan dan kerugian yang didapatkan. Suatu negara juga tidak selalu mendapat keuntungan yang maksimal, bisa saja keuntungan yang didapatkan sangat minimal namun dapat mengamankan posisi atau kepentingannya dalam sistem politik internasional. Israel dan segala tindakannya terhadap Palestina menjadi salah satu faktor eksternal mengapa Uni Emirat Arab mengambil langkah untuk “berdamai” terlepas adanya faktor politik ekonomi dari Amerika Serikat. Konflik Israel-Palestina yang hingga saat ini masih terjadi memicu ketegangan di kawasan Timur Tengah dan berdampak terhadap negara-negara lain mengingat kawasan tersebut yang sangat rawan konflik.

Uni Emirat Arab tentu dan sudah pasti memiliki kepentingan dalam mencapai perjanjian damai ini. Dengan menandatangani perjanjian ini, Uni Emirat Arab berharap bahwa terwujudnya ketentraman dalam lingkungan kawasan Timur Tengah mengingat Israel yang terus-terusan melakukan aneksasi terhadap wilayah Palestina membuat keadaan semakin sulit. Untuk keamanan kawasan berdasarkan janji dalam kesepakatan Abraham Accords, harapan terhadap Israel untuk berhenti melakukan aneksasi terhadap Palestina. Terlepas itu menjadi salah satu dari kepentingan Uni Emirat Arab mau membuka hubungan diplomatiknya dengan Israel. Dilain sisi, Israel dengan segala statement manis nya menyatakan bahwa ingin hidup damai dengan para tetangganya dan bahwa Timur Tengah merupakan rumah bagi Israel. Kedekatan perlu dibangun di antara seluruh negara di kawasan tersebut. Tidak hanya itu, normalisasi dengan Israel dapat meningkatkan ketahanan militernya karena secara tidak langsung hubungan antara Uni Emirat Arab dan Amerika Serikat juga semakin erat, dengan begitu, teknologi militer dari Amerika Serikat dapat secara massif masuk ke Uni Emirat Arab. Dengan keinginan untuk mencapai keamanan kawasan serta menghentikan konflik yang terjadi, dalam pandangan rational choice, Uni Emirat Arab melihat bahwa melakukan normalisasi hubungan dengan Israel merupakan pilihan yang rasional untuk mencapai hal tersebut.

Lalu bagaimana dengan Palestina? Banyak pendapat termasuk Palestina sendiri menyatakan bahwa ini sangat melemahkan posisi Palestina mengingat perjuangannya untuk merdeka dari Israel. Para penandatangan kesepakatan Abraham Accords menyatakan bahwa ini merupakan tindakan untuk membela Palestina. Dengan melakukan normalisasi hubungan dengan Israel, mereka berharap dapat memiliki bargaining position yang besar sehingga dapat mendukung dan membela Palestina lebih kuat lagi. Meski, asumsi tersebut sangat diragukan oleh banyak pihak. Dengan statement tersebut, Uni Emirat Arab tidak merasa berkhianat dengan Palestina. Sehingga ini juga dapat menjadi alasan yang rasional bagi Uni Emirat Arab untuk melakukan normalisasi hubungan dengan Israel.

 

Kesimpulan     

            Sudah menjadi rahasia umum bahwa Israel sejak dulu tidak memiliki hubungan yang baik dengan negara-negara Arab sejak melakukan aneksasi terhadap wilayah Palestina. Negara-negara Arab tidak memiliki keinginan untuk membuka hubungan dengan Israel selain jika adanya niatan untuk proses perdamaian di Palestina. Namun dewasa ini, faktor keamanan menjadi salah satu alasan normalisasi hubungan antara Israel dan Uni Emirat Arab dilakukan. Meski mendapat kecaman dari berbagai pihak atas tindakannya, dalam pandangan teori rational choice, membuka hubungan diplomatik dengan Israel setelah sekian lama menjadi musuh menjadi pilihan yang rasional dengan melihat kalkulasi keuntungan yang akan diterima serta dampak pada keadaan yang semakin sulit ini.

 

REFERENSI

Muhammad, Simela Victor. (September, 2020). “Normalisasi HUbungan Uni Emirat Arab -Israel dan Isu Palestina”. Diakses pada 12 Juli 2021, dalam http://berkas.dpr.go.id/puslit/files/info_singkat/Info%20Singkat-XII-17-I-P3DI-September-2020-183.pdf

Firmansyah Teguh. (Juli, 2021). “Influencer UEA, Bahrain, dan Maroko Berkumpul di Israel”. Diakses pada 12 Juli 2021, dalam https://www.republika.co.id/berita/qvsx1i377/influencer-uea-bahrain-dan-maroko-berkumpul-di-israel

CNN Indonesia. (Juni, 2021). “Israel Buka Kedubes di Uni Emirat Arab: Timteng Rumah Kami”. Diakses pada 11 Juli 2021, dalam https://www.cnnindonesia.com/internasional/20210630121043-134-661258/israel-buka-kedubes-di-uni-emirat-arab-timteng-rumah-kami

Fardani, Kevin. (Juni, 2021). “Normalisasi Hubungan UEA dengan Israel, Pengkhianatan Terhadap Palestina?”. Diakses pada 10 Juli 2021, dalam https://www.kompasiana.com/kelvinfardani0393/60d20ecbbb44866097292432/normalisasi-hubungan-uea-dengan-israel-penghianatan-terhadap-palestina?page=all

Kompas.com. (Agustus, 2020). “Israel-UEA Jalin Kembali Hubungan Diplomatik, Ini Respons Beberapa Negara”. Diakses pada 13 Juli 2021, dalam https://www.kompas.com/global/read/2020/08/14/144524370/israel-uea-jalin-kembali-hubungan-diplomatik-ini-respons-beberapa-negara?page=all

Wahyudi, Usman Tri. (Desember, 2020). “Normalisasi Hubungan UEA-Israel: Bagaimana dengan Negara Arab Lainnya?”. Diakses pada 13 Juli 2021, dalam https://kumparan.com/usman-tri-wahyudi/normalisasi-hubungan-uea-israel-bagaimana-dengan-negara-arab-lainnya-1umLbMzUjZ0

Bab I Pendahuluan. Diakses pada 16 Juli 2021, dalam http://scholar.unand.ac.id/46655/2/BAB%20I-PENDAHULUAN.pdf

Arjawa, Suka. “Pilihan Rasional di Balik Pembebasan Corby”. Global & Strategis Vol. 8 No. 1(2014): 49-62. Diakses pada 16 Juli 2021, dalam http://journal.unair.ac.id/downloadfull/JGS7698-e1fe01e4a0fullabstract.pdf

Gulf News. (Januari, 2002).Israeli claims baseless says Zayed”. Dalam https://gulfnews.com/uae/israeli-claims-baseless-says-zayed-1.375551#

The Guardian. (November, 2004). Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan: Progressive Arab Leader and Friend of Palestine and The West”. Dalam https://www.theguardian.com/news/2004/nov/03/guardianobituaries.israel

The Guardian. (Maret, 2010). “Dubai Police Chief Bars All Suspected Israelis Entering UAE”.  Dalam https://www.theguardian.com/world/2010/mar/01/dubai-police-bar-suspected-israelis

Entous, Adam. (Juni, 2018). “Donald Trump’s New World Order”. Dalam https://www.newyorker.com/magazine/2018/06/18/donald-trumps-new-world-order

Ravid, Barak. (Juli, 2017). Exclusive: Netanyahu Secretly Met With UAE Foreign Minister in 2012 in New York".  Dalam https://www.haaretz.com/israel-news/netanyahu-secretly-met-with-uae-foreign-minister-in-2012-in-new-york-1.5432342

PressTV. (Juni, 2017). "Report says UAE envoy, pro-Israel think tank working against Iran”. Dalam http://217.218.67.231/Detail/2017/06/03/524103/UAE-Israel-Iran

Grim, Ryan; Zaid, Jilani. (Juni, 2017). “Hacked Emails Show Top UAE Diplomat Coordinating With Pro-Israel Think Tank Against Iran”. Dalam https://theintercept.com/2017/06/03/hacked-emails-show-top-uae-diplomat-coordinating-with-pro-israel-neocon-think-tank-against-iran/ 

BBC News. (Agustus, 2020). "Israel and UAE strike historic peace deal"Dalam https://www.bbc.com/news/world-middle-east-53770859

Aljazeera. (Agustus, 2020). "Israel and UAE announce normalisation of relations with US help". Dalam https://www.aljazeera.com/news/2020/08/israel-uae-announce-normalisation-relations-200813145645861.html  

Ulrichsen, Kristian Coates. (September, 2016). "Israel and the Arab Gulf States: Drivers and Directions of Change" (PDF). Rice University's Baker Institute for Public Policy. Hal. 3. Dalam https://www.bakerinstitute.org/media/files/research_document/13eaaa71/CME-pub-GCCIsrael-090716.pdf

 

Mitra Kami

logo unmul2 logo ind2q logo venas3 logo aihii3