Belt and Road Initiative di Kaltara: Apa yang harus disiapkan dan dihindari(Koran Radar Tarakan)

3561 11 UrnvF 1

Belt and Road Initiative di Kaltara: Apa yang harus disiapkan dan dihindari

Dadang I.K. Mujiono

Mahasiswa S3 National University of Singapore

Dalam pertemuan tingkat tinggi Belt and Road Initiative pada Mei 2017 di China, pemerintah Indonesia sepakat menawarkan kepada pemerintah dan investor China untuk menginvestasikan modalnya ke beberapa proyek unggulan yang tertuang dalam master plan percepatan pembangunan Indonesia atau MP3EI. Salah satu wilayah yang ditawarkan adalah Kalimantan Utara.

Dalam kesepakatan tersebut, pemerintah Kaltara melalui pemerintah RI menawarkan beberapa proyek kepada investor China berupa pembangunan pembangkit listrik tenaga air (hydropower plant) di Sungai Kayan, kawasan industri dan pelabuhan internasional Tanah Kuning-Mangkupadi, dan pusat pemerintahan baru di Tanjung Selor. Total investasi yang diperoleh bernilai USS 41.6 miliar atau setara dengan hampir Rp 600 Triliun, menjadikan nilai invetasi ini terbesar dari empat daerah yang ditunjuk oleh pemerintah pusat, yakni Sumatera Utara, Sulawesi Utara dan Bali.

Adanya investasi asing secara tidak langsung telah menjadi perdebatan antara kedua pihak yang pro dan kontra. Adanya investasi asing bagi pemerintah tentunya akan membuka peluang ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan tidak mampu dipenuhi secara maksimal oleh pemerintah daerah. Di sisi lain, bagi para peng-kritik, adanya investasi asing umumnya juga akan dibarengi dengan masuknya tenaga kerja asing (TKA) dan produk asing untuk mendukung jalannya proyek.

Kedua perdebatan ini sebenarnya tidak ada yang salah. Satu pihak, pemerintah memiliki niat mulia untuk memajukan daerah dan mensejahterakan warganya. Satu sisi, pihak yang mengkritisi investasi asing juga patut didengarkan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diiginkan, khususnya terkait dengan konflik sosial antara warga lokal dan pendatang.

Oleh karena itu, apa yang harus kita siapkan dalam menyambut investasi dari BRI? Pertama-tama adalah sumber daya manusia, baik tenaga kerja yang akan terserap dalam investasi tersebut dan kesiapan perusahaan lokal agar dapat bekerja bersama-sama degan perusahaan asal China

Hal ini penting untuk diingat karena mekanisme investasi BRI yang diharapkan oleh pemerintah Indonesia adalah melalui B-to-B atau business to business, ketimbang meminjam dana dari pemerintah China. B-toB artinya melibatkan perusahaan daerah untuk bekerja bersama-sama dengan perusahaan asing dalam membangun proyek yang sudah disetujui. Baik menjadi mitra utama atau sub-kontraktor.  

Selain mempersiapkan SDM, pemerintah provinsi juga perlu mempertimbangkan untuk membentuk lembaga atau satuan unit kerja (Satker) yang khusus mempersiapkan kedatangan investasi BRI.

Contohnya saja di Sulawesi Utara sebagai salah satu penerima investasi BRI telah mempersiapkan satker yang khusus bertugas mengawal dan merespon seluruh urusan terkait dengan investasi BRI. Satker ini diketuai oleh Gubernur dan jajaran terkait. Adapun tugas selain mengawal investasi di daerah, satker ini juga merancang daftar proyek yang diinginkan oleh Pemprov Sulut dan terus berkoordinasi dengan investor asing.

Selain tugas utama mengawal investasi BRI, satker ini juga mendorong terbukanya peluang kerjasama Pemprov Sulut dengan provinsi-provinsi di China (paradiplomasi) dalam hal pendidikan, pertukaran budaya dan lain-lain. Hal ini penting, mengingat Kaltara belum memiliki kerjasama yang bersifat paradiplomasi dengan provinsi-provinsi di China.

Terlepas dari hal-hal yang perlu disiapkan, pemprov Kaltara juga perlu mengantisipasi hal-hal yang dapat ditimbulkan dari investasi BRI.

Pertama luapan tenaga kerja asing, khususnya dari Chin, dan kedua barang-barang bangunan yang juga berasal dari China. Menurut laporan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang berjudul Perceptions and Readiness of Indonesia Toward the Belt and Road Initiative mengatakan bahwa masuknya investasi asing umumnya juga dibarengi dengan masuknya tenaga kerja asing dan bahan bangunan impor.

Hal ini terjadi umumnya karena dua sebab yakni ketidakmampuan perusahaan lokal menyediakan bahan bangunan yang berasal dari dalam negeri karena ketidasiapan industri lokal/dalam negeri. Kedua karena jumlah penduduk yang relatif sedikit di wilayah tempat investasi berada.

Kita perlu pahami bahwa Kaltara dari keempat provinsi investasi BRI merupakan wilayah dengan jumlah populasi terkecil. Namun dilain pihak, memperoleh proporsi investasi BRI terbesar. Lebih lanjut, Kaltara khususnya dan Kaltim umumnya merupakan provinsi kaya namun kurang akan industri bahan bangunan. Sudah menjadi rahasia umum, semen, batu kerikil dan bahan bagunan untuk pembangunan proyek-proyek besar di dua provinsi ini sebagian besar berasal dari Sulawesi.

Terlepas dari kurangnya bahan bagunan produksi dalam negeri, antisipasi berikutnya adalah gesekan antara penduduk lokal dan warga asing. Dari laporan yang sama (CSIS) menerangkan bahwa membangun sebuah proyek tertentu yang sarat akan teknologi maju memerlukan SDM yang bukan hanya handal namun berpengalaman. Dan apabila SDM tersebut tidak dapat dipenuhi oleh daerah setempat, maka investor dipastikan akan membawa SDM yang juga dipastikan berasal dari luar negeri.

Hal ini terjadi di Morowali Sulawesi Tengah, dimana kehadiran TKA China dalam proyek investasi yang berasal dari China telah menimbulkan gesekan sosial di tengah masyarakat dan menarik perhatian media nasional dan internasional.

Dari adanya persoalan di atas, tentu kita ingin hal tersebut terjadi di Kaltara.

Sekarang pertanyaanya, apakah pemprov Kaltara mampu menyediakan SDM yang dibutuhkan investor untuk membangun kawasan industri dan proyek-proyek besar seperti yang disebutkan di atas? Dan secara khusus, apakah masyarakat Kaltara mampu berpartisipasi dalam pembangunan proyek tersebut?

Tentunya pertanyaan ini perlu menjadi perhatian bersama agar investasi BRI di Kaltara tidak semata-mata hanya sebagai target pemerintah membangun daerah, namun belum mengantisipasi dampak-dampak yang ditimbulkan.

Mitra Kami

logo unmul2 logo ind2q logo venas3 logo aihii3